Kerak Telor

kerak telor

Setiap Idul Fitri kami biasanya nyekar ke makam para sesepuh. Nyekar atau ziarah kubur bagi kami juga momen untuk mengenalkan silsilah keluarga pada anak-anak. Bagi anak kami, momen nyekar jadi hal yang ditunggu-tunggu. Bukan karena ziarahnya, tapi karena kerak telor ! Di pemakaman para sesepuh kami, ada pedagang kerak telor yang setiap tahun berjualan di situ. Dan setiap tahun kami menikmati dagangannya. Beliau orang Betawi asli dan memang ahli membuat kerak telor. “Saya bukan pedagang musiman, bu. Keluarga saya turun temurun dagang kerak telor” begitu pengakuan si  babe. “Kerak telor saya gak pake mecin, saya pake ebi biar gurih”. Mungkin ini salah satu faktor rasa kerak telornya khas.

Anak sulung saya selalu yang paling antusias ketika kerak telor dimasak. Biasanya dia akan ambil posisi persis di depan anglo, memperhatikan langkah demi langkah proses memasak kerak telor, dan bakal “nyengir” takjub ketika wajan kerak telor dibalik tapi kerak telornya tidak jatuh.  Yang pasti si babe akan diwawancara soal bagaimana cara membuatnya. Dia jadi tahu kalau beras yang dipakai adalah beras ketan dan harus direndam 2 hari, apa saja topping kerak telor, dan tahu kalau kerak telor harus dimasak dengan anglo, tidak bisa pakai kompor. Dia juga tahu kalau kerak telor bisa pakai telor bebek atau telor ayam.

Momen-momen seperti ini bagi saya adalah momen yang mahal dan berharga, juga jadi momen silaturahmi dengan siapa saja. Paling tidak setiap tahun bisa bertemu dengan si babe pedagang kerak telor. Kedua, anak saya jadi punya kesempatan untuk belajar tentang kehidupan bahwa di kompleks pemakaman yang ramai dikunjungi orang setiap tahunnya ada roda ekonomi yang berputar untuk masyarakat setempat. Saya sendiri belajar kalau ada lampu yang dipakai oleh para pedagang ini yang tinggal dicolok ke power bank!  Paling tidak saya dapat ilmu baru untuk mengantisipasi jika tiba-tiba listrik mati.

Mendorong anak-anak terlibat dalam setiap kegiatan keluarga merupakan salah satu media pendidikan bagi anak-anak. Semoga saja pengalaman-pengalaman yang diberikan dapat menjadi bekal saat mereka dewasa kelak.

Wassalam, Asrilla Noor

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s