Bablas

Media sosial hari ini masih ramai dengan bahasan tokoh yang kebablasan bicara. Ternyata, kata mutiara mulutmu harimaumu itu benar-benar terbukti di alam nyata. Semestinya, tokoh ataupun figur masyarakat sudah harus sadar bahwa dirinya bukan milik dirinya sendiri, tetapi menjadi panutan masyarakat. Dampak dari salah bertutur kata salah bersikap tidak hanya berbalik pada diri pribadi tetapi mampu menjadi isu nasional dan malahan berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Na’udzubillah….

Mungkin kita memang sedang kebablasan. Dalam euphoria demokrasi ketika semua orang merasa berhak mengeluarkan pendapat, merasa mudah memperkarakan orang ke ranah hukum, merasa memiliki kekuasaan untuk memperlakukan orang lain semaunya, maka kita akan mulai saling tuding, saling injak, saling menyalahkan, saling menyeret-nyeret orang agar dapat disalah-salahkan. Apakah demikian wajah demokrasi yang kita inginkan? Apakah memang demokrasi dimaksudkan agar orang dapat hardik menghardik, bicara kasar to the point yang dianggap lebih “jujur” ketimbang menyampaikannya dengan cara halus dan beradab? Apakah masyarakat kita sudah tidak lagi percaya pada sopan santun yang dianggap mengandung hipokrasi?

Sebagai pendidik, saya merasa bergidik. Saya membayangkan carut marut yang sedang dilihat oleh anak-anak muda kita. Melihat kelakuan para petinggi yang jumawa dan jauh dari keteladanan. Anak-anak akan belajar bahwa kekuasaan dan uang jauh lebih berharga daripada integritas. Anak-anak akan belajar menjatuhkan lawan dengan segala cara untuk mendapatkan posisi dan kekuasaan. Yang penting menang. Mata pelajaran PPKN dan Agama tidak berarti apa-apa karena materinya hanya sekedar hafalan, tetapi melihat kelakuan para petinggi di televisi jadi pelajaran penting bagi anak-anak karena yang mereka lihat adalah contoh. Sayangnya, bukan keteladanan yang mereka lihat…….

Anak-anak akan belajar bahwa orang tua dan guru tak perlu lagi dihormati karena dipandang sama di mata hukum, jadi boleh memperlakukan mereka tanpa etika. Anak-anak akan belajar bahwa kejujuran itu sama dengan bicara kasar dan to the point tanpa melihat konteks lingkungan dan budaya. Anak-anak akan belajar bahwa melakukan kesalahan berkali-kali itu biasa asal nantinya minta maaf saja, lalu bisa saja diulangi kembali.  Anak-anak akan belajar bahwa tak perlu ada toleransi biar semua nanti diselesaikan melalui hukum dan pengadilan. Anak-anak akan belajar bahwa silaturahim itu sama dengan konspirasi. Anak-anak akan belajar bahwa hanya perlu kecerdasan dan keterampilan teknis agar dapat unggul dan memenangkan kompetisi. Anak-anak akan belajar bahwa kompetensi tertinggi adalah etos kerja dan loyalitas membabi buta pada pemilik modal.

Sungguh, saya tak dapat membayangkan bagaimana caranya membangun integritas bangsa jika kita hanya melihat pemimpin hanya dari kompetensi teknis belaka. Negara ini memerlukan orang yang berpikir tentang kebangsaan dan persatuan, bukan yang ingin memenuhi nafsu syahwat kekuasaan. Semoga carut marut hari ini menjadi pelajaran berharga bagi bangsa agar tidak salah memilih pemimpin di masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s